Memasuki tahun 2026, lanskap investasi di pasar modal Indonesia menunjukkan dinamika yang sangat positif. Dengan proyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus mencetak rekor All-Time High (ATH) baru, investor disuguhkan pada peluang emas untuk memaksimalkan keuntungan. Dalam fase pasar yang ekspansif ini, saham sektor perbankan selalu menjadi primadona, terutama The Big Two: PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).
Bagi investor jangka panjang, perdebatan antara memilih BBCA atau BBRI adalah diskusi klasik yang tak pernah usai. Keduanya adalah raksasa dengan fundamental sekuat karang. Namun, jika lensa kita kerucutkan secara spesifik pada keuntungan dividen di tahun 2026, peta persaingannya menjadi sangat menarik untuk dibedah.
Artikel ini akan mengupas tuntas analisis fundamental kedua bank raksasa ini, membandingkan model bisnis, kualitas aset, hingga memproyeksikan saham mana yang akan memberikan imbal hasil dividen (dividend yield) paling menggiurkan bagi portofolio Anda di tahun 2026.
1. Anatomi Model Bisnis: Perbedaan Fokus dan Kekuatan
Untuk memahami potensi dividen, kita wajib memahami dari mana kedua bank ini mencetak laba. Meskipun sama-sama beroperasi di sektor perbankan, BBCA dan BBRI memiliki “kolam” keuntungan yang sangat berbeda.
Bank Central Asia (BBCA): Raja Ekosistem Transaksi
BBCA adalah rajanya dana murah atau CASA (Current Account Saving Account). Lebih dari 80% dana pihak ketiga (DPK) BCA berasal dari tabungan dan giro yang memberikan beban bunga sangat rendah kepada bank. Mengapa nasabah rela menyimpan uang dengan bunga rendah di BCA? Jawabannya adalah ekosistem transaksi yang tak tertandingi. Dari mesin EDC, ATM, hingga mobile banking (BCA Mobile dan myBCA) yang sangat andal, BCA telah menjadi urat nadi perputaran uang di Indonesia, baik untuk ritel maupun korporasi.
Dengan cost of fund (biaya dana) yang sangat murah, BCA mampu memberikan kredit dengan bunga kompetitif kepada nasabah korporasi premium, menjaga kualitas kredit tetap prima, dan mencetak margin keuntungan yang luar biasa stabil dalam kondisi ekonomi apa pun.
Bank Rakyat Indonesia (BBRI): Raksasa Ekonomi Akar Rumput
Jika BBCA bermain di segmen premium dan korporasi, BBRI adalah penguasa absolut di sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Strategi BBRI di tahun 2026 semakin matang berkat Holding Ultra Mikro (Umi) yang mengintegrasikan ekosistem BRI, Pegadaian, dan Permodalan Nasional Madani (PNM).
Kredit mikro memberikan yield (imbal hasil bunga) yang jauh lebih tinggi dibandingkan kredit korporasi. Hal ini membuat Net Interest Margin (NIM) atau margin bunga bersih BBRI selalu menjadi salah satu yang tertinggi di industri perbankan nasional, bahkan global. Namun, high return selalu datang dengan high risk; tantangan utama BBRI adalah menjaga agar kredit macet (NPL) dari segmen bawah ini tidak menggerus laba bersih.
2. Komparasi Fundamental Kunci di 2026
Memproyeksikan tahun 2026, di mana suku bunga acuan (BI Rate) diprediksi sudah berada pada level yang akomodatif, berikut adalah peta kekuatan fundamental keduanya:
-
Pertumbuhan Laba Bersih (Net Profit Growth): BBCA diperkirakan akan tetap mempertahankan pertumbuhan laba double digit yang stabil, ditopang oleh efisiensi operasional dan pertumbuhan kredit sindikasi serta konsumer. Di sisi lain, BBRI diproyeksikan mengalami lonjakan laba yang agresif pada 2026 seiring dengan meredanya tekanan pencadangan (provisioning) pasca restrukturisasi kredit era sebelumnya, dipadukan dengan ekspansi masif di segmen ultra mikro.
-
Kualitas Aset (NPL): BBCA adalah standar emas dalam manajemen risiko perbankan. Non-Performing Loan (NPL) BCA secara historis selalu berada di level yang sangat rendah (jauh di bawah batas aman industri). Sementara itu, NPL BBRI sedikit lebih tinggi karena sifat bisnis mikronya, namun manajemen BRI terbukti sangat mahir melakukan mitigasi risiko melalui pencadangan yang tebal (NPL Coverage Ratio di atas 200%).
-
Efisiensi (BOPO): BBCA memiliki rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) yang sangat rendah berkat digitalisasi yang masif. BBRI memiliki BOPO yang relatif lebih tinggi karena kebutuhan operasional fisik (mantri dan agen BRILink) yang menjangkau pelosok desa, namun hal ini dikompensasi dengan volume transaksi yang masif.
3. Analisis Kebijakan Dividen (Dividend Policy)
Sekarang kita masuk ke pertanyaan utama: Siapa yang lebih royal membagikan dividen? Untuk menjawabnya, kita harus melihat dua metrik utama: Dividend Payout Ratio (DPR) dan Dividend Yield.
Histori dan Proyeksi Dividend Payout Ratio (DPR)
DPR adalah persentase laba bersih yang dibagikan kepada pemegang saham.
-
BBRI sangat agresif dalam membagikan dividen. Sebagai perusahaan BUMN, BBRI memiliki kewajiban untuk menyetor dividen ke kas negara. Secara historis dalam beberapa tahun terakhir, BBRI berani menetapkan DPR di angka 70% hingga 85% dari total laba bersih. Tren ini sangat diyakini akan berlanjut di tahun 2026, menjadikannya mesin penghasil uang tunai bagi investor.
-
BBCA lebih konservatif. Manajemen BCA biasanya menetapkan DPR di kisaran 40% hingga 50% (terkadang bisa lebih jika ada dividen spesial). BCA lebih memilih menahan sebagian besar labanya (retained earnings) untuk memperkuat modal dan mendanai ekspansi bisnis secara organik.
Komparasi Dividend Yield di 2026
Dividend Yield adalah rasio dividen per lembar saham dibagi dengan harga saham saat ini. Ini adalah metrik paling krusial bagi pencari pendapatan pasif (passive income).
Kalkulasi Proyeksi 2026: Dengan asumsi BBRI melanjutkan tradisi DPR 80% dari laba yang terus bertumbuh, dividend yield BBRI di tahun 2026 diproyeksikan bisa dengan mudah menyentuh angka 4,5% hingga 6,5% (tergantung harga rata-rata pembelian saham Anda).
Di kubu seberang, dengan valuasi harga saham yang biasanya premium (PBV tinggi) dan kebijakan DPR konservatif, dividend yield BBCA umumnya berkisar di level 1,5% hingga 2,5%.
Secara hitung-hitungan matematis murni, BBRI adalah pemenang mutlak dalam hal besaran dividend yield.
4. Total Return: Menyandingkan Dividen dengan Capital Gain
Penting untuk diingat bahwa keuntungan berinvestasi saham tidak hanya dari dividen, tetapi juga dari kenaikan harga saham (capital gain).
Meskipun yield dividen BBCA lebih kecil, harga saham BBCA secara historis menunjukkan pertumbuhan jangka panjang yang luar biasa konsisten dengan volatilitas yang sangat rendah. Modal yang ditahan oleh BCA diputar kembali dengan Return on Equity (ROE) yang brilian, sehingga nilai intrinsik perusahaannya terus membesar. Investor BBCA mungkin tidak mendapatkan “gajian” dividen yang besar setiap tahun, tetapi kekayaan bersih mereka tumbuh eksponensial dari meroketnya harga saham.
Di sisi lain, pergerakan harga saham BBRI cenderung lebih volatil (berfluktuasi) dibandingkan BBCA, sangat dipengaruhi oleh sentimen ekonomi makro dan pergerakan aliran dana asing (foreign flow). Namun, kombinasi antara dividen yang jumbo dan potensi capital gain saat ekonomi domestik booming, membuat total return BBRI tidak kalah menawan.
Kesimpulan: Mana yang Harus Dipilih di 2026?
Jawaban dari pertanyaan “Mana yang lebih menguntungkan?” sangat bergantung pada profil risiko dan tujuan investasi Anda:
Pilih BBRI jika Anda adalah “Dividend Hunter” sejati. Jika tujuan utama portofolio Anda di tahun 2026 adalah menghasilkan arus kas reguler (cashflow) yang maksimal, atau Anda adalah investor yang hidup dari pendapatan pasif, BBRI adalah pilihan yang tidak bisa diganggu gugat. Tingkat DPR yang mencapai 80% dan yield di atas bunga deposito menjadikan BBRI mesin ATM pencetak uang yang sangat bisa diandalkan.
Pilih BBCA jika Anda fokus pada “Wealth Accumulation” dan Keamanan Tidur Nyenyak. Jika Anda tidak terlalu membutuhkan uang tunai dalam waktu dekat dan lebih fokus pada pelipatgandaan aset (akumulasi kekayaan) untuk 5-10 tahun ke depan, BBCA adalah jawabannya. Dividen BCA memang kecil, namun itu adalah tanda bahwa manajemen tahu cara memutar uang Anda dengan lebih efisien daripada jika uang itu dibagikan kepada Anda. BBCA adalah bantalan teraman saat pasar sedang tidak menentu.
Strategi terbaik bagi sebagian besar investor cerdas? Miliki keduanya. Membagi porsi investasi Anda ke dalam BBCA (sebagai pondasi pertahanan dan pertumbuhan nilai) dan BBRI (sebagai motor penggerak arus kas dividen) akan menciptakan keseimbangan portofolio yang sempurna untuk mengarungi pasar modal di tahun 2026.***