Tahun 2026 menjadi fase yang sangat menarik bagi pasar modal Indonesia. Di tengah euforia Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menembus level-level psikologis baru berkat masuknya aliran dana asing (foreign inflow) ke saham-saham blue chip, ada sebuah arena lain yang diam-diam menawarkan potensi keuntungan jauh lebih fantastis: perburuan saham undervalued berpotensi multibagger.
Bagi investor yang jeli, rotasi sektoral dan pergeseran fokus pasar selalu meninggalkan saham-saham dengan fundamental cemerlang namun salah harga (mispriced) oleh pasar. Saham multibagger—istilah yang dipopulerkan oleh investor legendaris Peter Lynch untuk saham yang mampu memberikan imbal hasil berkali-kali lipat dari harga belinya (100%, 200%, hingga 1000%)—biasanya lahir dari kondisi undervalued ini.
Menemukan “hidden gem” atau permata tersembunyi di bursa bukanlah tentang menebak arah angin, melainkan tentang analisis fundamental yang tajam, pemahaman siklus ekonomi, dan kesabaran ekstra. Artikel ini akan membedah kriteria saham multibagger dan menyajikan daftar saham undervalued paling prospektif di tahun 2026.
Anatomi Saham Multibagger: Apa yang Membuatnya Meroket?
Tidak semua saham murah adalah hidden gem; banyak di antaranya adalah value trap (jebakan nilai) di mana perusahaan memang pantas dihargai murah karena bisnisnya sedang sekarat. Untuk menemukan kandidat multibagger sejati di tahun 2026, sebuah saham harus memenuhi minimal tiga dari empat kriteria fundamental berikut:
-
Valuasi Salah Harga (Undervalued): Rasio Price to Earnings (PER) dan Price to Book Value (PBV) berada jauh di bawah rata-rata historisnya sendiri (selama 5 tahun terakhir) dan di bawah rata-rata industri sejenis.
-
Katalis Pertumbuhan yang Jelas (Turnaround Story): Harus ada pemicu (catalyst) yang kuat mengapa laba perusahaan akan melonjak di masa depan. Ini bisa berupa pergantian manajemen, peluncuran produk baru, efisiensi drastis, atau perubahan regulasi pemerintah yang menguntungkan sektor tersebut.
-
Neraca Keuangan yang Sehat: Rasio utang terhadap ekuitas (Debt to Equity Ratio/DER) harus berada pada level yang dapat dikelola. Perusahaan harus memiliki arus kas bebas (free cash flow) yang positif untuk mendanai operasional tanpa harus terus-menerus menerbitkan utang baru.
-
Skala Kapitalisasi Menengah ke Bawah (Mid/Small Cap): Saham raksasa berkapitalisasi ratusan triliun akan sangat sulit untuk naik 500% dalam waktu singkat. Kandidat multibagger umumnya bersembunyi di deretan saham lapis kedua (second liner) atau ketiga (third liner) yang belum banyak di- cover oleh analis sekuritas besar.
Sorotan Sektor Properti: Arena “Hidden Gem” Paling Menjanjikan 2026
Jika kita berbicara tentang potensi undervalued yang siap meledak di tahun 2026, sektor properti dan real estate menduduki peringkat teratas. Mengapa sektor ini sangat krusial untuk dicermati?
Selama beberapa tahun terakhir, saham-saham properti dan pengembang perumahan (developer) ditekan oleh suku bunga tinggi yang mengerem penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Akibatnya, valuasi emiten properti terdiskon secara tidak wajar, di mana banyak pengembang raksasa diperdagangkan jauh di bawah Nilai Aktiva Bersih (Net Asset Value/NAV) cadangan lahan (landbank) mereka.
Namun, di tahun 2026, narasi ini berbalik arah. Suku bunga acuan yang telah melandai membuat cicilan KPR kembali terjangkau, memicu ledakan permintaan (pent-up demand) dari kalangan milenial dan Gen Z. Selain itu, masifnya pembangunan infrastruktur jalan tol baru membuka akses ke kota-kota satelit, melipatgandakan nilai aset properti di pinggiran Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Kombinasi dari pulihnya siklus properti dan valuasi yang masih “tiarap” menciptakan landasan peluncuran yang sempurna untuk saham-saham real estate.
Daftar Saham Undervalued 2026 Berpotensi Multibagger
Berdasarkan penyaringan ketat terhadap valuasi historis, prospek sektoral, dan katalis masa depan, berikut adalah daftar “hidden gem” yang wajib masuk ke dalam watchlist investasi Anda di tahun 2026:
1. PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE)
Sebagai salah satu raksasa properti terbesar di Indonesia, BSDE saat ini masih sering diperdagangkan dengan diskon besar terhadap nilai wajar asetnya (Discount to RNAV yang tinggi). BSDE memiliki cadangan lahan terbesar yang sangat strategis. Ekspansi dan pembangunan komersial di kawasan BSD City yang terus bertumbuh menjadi penyumbang recurring income (pendapatan berulang) yang stabil. Dengan turunnya suku bunga KPR di 2026, pra-penjualan (marketing sales) residensial BSDE diproyeksikan akan mencetak rekor baru, yang secara perlahan akan mengerek harga sahamnya ke nilai wajarnya.
2. PT Ciputra Development Tbk (CTRA)
Masih di sektor properti, CTRA adalah “Raja Geografis” dengan portofolio proyek perumahan yang tersebar di puluhan kota di seluruh Indonesia. Berbeda dengan pengembang yang hanya berpusat di Jabodetabek, CTRA sangat diuntungkan oleh desentralisasi ekonomi dan pembangunan di luar pulau Jawa. Valuasi CTRA yang kerap tertinggal dibandingkan potensi arus kasnya menjadikan saham ini kandidat multibagger yang relatif sangat aman bagi investor beraliran value investing.
3. PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA)
Di saat perbankan Big 4 (BCA, BRI, Mandiri, BNI) sudah diperdagangkan dengan valuasi premium, BNGA menawarkan cerita pertumbuhan yang fantastis di jajaran bank lapis kedua. BNGA secara konsisten memperbaiki kualitas asetnya dan meningkatkan porsi dana murah (CASA). Yang membuat BNGA menarik adalah valuasinya yang seringkali masih tertahan di sekitar 1x PBV, padahal perusahaan mampu mencetak ROE (Return on Equity) yang nyaris menyamai bank papan atas. Selain potensi kenaikan harga, BNGA juga rutin membagikan dividen dengan yield yang menggiurkan.
4. PT Indika Energy Tbk (INDY)
Pasar sering kali masih menghargai INDY murni sebagai perusahaan batu bara, yang mana sektor ini rentan terhadap kampanye ESG global. Namun, hidden gem sesungguhnya terletak pada transformasi radikal INDY. Manajemen secara agresif melakukan divestasi aset batu bara dan memompa modal besar-besaran ke sektor energi terbarukan, pertambangan emas (Awakmas), serta ekosistem kendaraan listrik (Alva). Saat pasar pada akhirnya mengapresiasi “wajah baru” INDY sebagai perusahaan green energy di tahun 2026, re-rating valuasi akan terjadi secara masif.
5. PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO)
Sempat mengalami tekanan laba akibat pelemahan daya beli dan kenaikan harga bahan baku di masa lampau, SIDO telah melakukan rasionalisasi biaya yang ketat. Di tahun 2026, dengan daya beli kelas menengah bawah yang kembali pulih, penjualan Tolak Angin dan produk kesehatan SIDO diproyeksikan meroket. SIDO adalah perusahaan tanpa utang berbunga (zero debt) dengan margin laba yang sangat tebal. Membeli SIDO saat harganya sedang terkoreksi tajam dan valuasinya murah adalah strategi klasik menangkap pisau jatuh yang telah memantul kembali (turnaround).
6. PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA)
Sebagai penguasa ritel perangkat telekomunikasi, ERAA terus berekspansi secara horizontal. Mereka tidak lagi sekadar berjualan smartphone, melainkan telah merambah lini bisnis kosmetik, pakaian olahraga (Active), hingga ritel makanan dan minuman (Food & Nourishment). Jika ekosistem ritel baru ini mencapai skala keekonomiannya (BEP) di tahun 2026, laba bersih ERAA akan melonjak signifikan. Valuasi PER ERAA yang sering kali ditekan oleh kekhawatiran jangka pendek memberikan celah masuk yang sangat lebar bagi value investor.
Manajemen Risiko: Hindari Jebakan “Value Trap”
Berburu saham undervalued bagaikan berjalan di ladang ranjau. Untuk setiap satu multibagger yang sukses, ada banyak saham murah yang harganya terus turun hingga gocap (Rp 50 per lembar). Berikut adalah langkah krusial untuk memitigasi risiko:
-
Pahami Perbedaan “Murah” dan “Murahan”: Perusahaan yang labanya terus menyusut dari tahun ke tahun, ditinggalkan pelanggan, dan terbelit utang besar bukanlah saham undervalued; itu adalah perusahaan yang sedang bangkrut.
-
Diversifikasi Taktis: Jangan pernah menaruh seluruh modal Anda ( all-in) pada satu saham hidden gem. Sebar risiko Anda pada 3 hingga 5 sektor berbeda. Jika satu tesis investasi gagal, portofolio Anda tidak akan hancur lebur.
-
Kesabaran adalah Kunci: Saham undervalued sering kali menguji mental. Harga sahamnya bisa bergerak mendatar (sideways) berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sebelum akhirnya “meledak” saat pasar menyadari nilai aslinya. Time in the market seringkali mengalahkan timing the market.
Kesimpulan
Bursa Saham Indonesia di tahun 2026 menyimpan harta karun berupa saham-saham undervalued yang siap bertransformasi menjadi multibagger. Mengalokasikan sebagian portofolio pada emiten properti yang diuntungkan oleh pemulihan real estate seperti BSDE dan CTRA, serta membidik saham turnaround seperti INDY dan BNGA, dapat melipatgandakan kekayaan Anda melampaui rata-rata pertumbuhan IHSG.
Ingatlah, berinvestasi pada saham “hidden gem” menuntut analisis fundamental yang gigih dan keyakinan yang kuat. Jangan terburu-buru mengikuti rumor; pahami bisnisnya, baca laporan keuangannya, dan biarkan pasar yang pada akhirnya menyelaraskan harga saham dengan nilai intrinsiknya.***